INDONESIA
Indonesia
Dimanakah kau?
Aku mencarimu
Di setiap putaran zaman yang merapuh
Kau kini tiada
Tiada nisan
Tiada tonggak-tonggak sejarah
Hingga tangisku kini telah menjadi darah kekecewaan
Indonesia
Aku mencarimu
Mencarimu ke Barat
Tapi kau berada di Timur
Dalam genggaman zionisme
Indonesia
Aku mencarimu ke Timur
Tapi kau bersemayam di Barat
Dalam cengkraman kapitalisme
Indonesia aku mencarimu ke langit
Tapi kau berada di bumi
Bersama tikus-tikus penghianat
Yang merecah jiwa ragamu
Indonesia
Aku mencarimu
Aku merindukan mu
Tebuslah tulang-tulangku
Yang aku satukan dalam tiang persatuan
Bayarlah darah ku
Yang aku kibarkan dalam benderamu
Indonesia
Aku melihatmu
Aku menanyakan mu
Pada rumput-rumput
Yang mulai menangisimu
Tentang kita dulu
Yang merindukan kemerdekaan untuk bersatu
Tentang kita kini
Yang merindukan kemerdekaan untuk berpisah
Berpisah
Berpisah
Berpisah
2002
MAWAR YANG KAU SIMPAN
Mawar yang kau simpan di meja kerjaku
Telah mengering dan terbakar waktu
Tapi menjelang hari usai
Kau teteskan air mata di keningku
Mengalirkan darahku yang tersumbat penyesalan tiada bertepi
Mendenyutkan jantungku
Dalam wirid tanpa makna
Sedangkan mawarmu kembali kau petik
Kau simpan di meja kerjaku
Yang semakin kerontang
Tapi di hatimu melukiskan meronanya jiwamu
Dalam untaian tangis yang menghujam di jiwaku
Kini kuikrarkan pada mawar yang kau simpan
Aku masih tegak berdiri dengan sayapku yang kau korbankan
Maret 2002
RESEP MASAK
Kumpulkan tulang-tulang teman kita
Yang terhampar dari Sabang sampai Merauke
Kita jadikan masakan kenangan
Diakhir perjalanan
Tuangkan air matamu ke dalam bejana
Yang telah kita sakralkan bersama
Dengan doa-doa kematian
Dan siramkanlah disana
Di atas nisan pahlawan-pahlawan kita
Agar kita tak lupa diri
Setelah semuanya usai
Kita satukan tulang-tulang yang tersisa
Di buku sejarah yang jadi fiksi penguasa
Semuanya siap dihidangkan
Untuk menghibur anak-anak bangsa
Yang haus pesta kemerdekaan
Setelah lama terinjak mimpi sunyi dan bohong
Dan manipulasi sang raja
Di negeri haus tirani
April 2002
PAK TUA TANPA CELANA
Selamat pagi Pak!
Apa dasi sudah terpakai?
Digantung mengerat lehermu
Waktu aku masih duduk di ruangan ini
Telunjukmu bak sebuah mata pisau
Yang merobohkan jantungku
Selamat siang Pak!
Apa sepatu sudah terpakai?
Menjepit jari-jari kakimu
Yang selalu kau arahkan kemana saja kau suka
Aku masih berdiri di depan pintumu
Dan kakimu memenjarakanku dalam kenistaan
Selamat sore Pak!
Apa baju sudah terpakai?
Mengencangkan perutmu
Yang buncit dimakan nafsu
Aku masih berjalan di halaman rumahmu
Dan ludah yang kau semburkan
Menutupi mata hatiku
Aku buta hingga tak tahu apa yang kau lakukan
Selamat malam Pak!
Apa celana sudah terpakai?
Menutupi kemaluanmu
Yang tak pernah merasa malu
Kau umbar di mana saja kau mau
Dan kau permainkan di mana saja kau suka
Aku masih berjalan di pinggiran kota
Sampah-sampah yang kau buang
Telah menghidupiku dari kebohonganmu
Selamat pagi Pak!
Apa bapak sudah bangun?
Hari telah menjemput bapak
Yang tidak berdasi, tidak berbaju, tidak bercelana,
Dan tidak memiliki perasaan
Aku masih menertawakanmu
150303
SURAT PENINGGALANMU
Telah kubaca berulang kali
Surat peninggalanmu kemarin pagi
Aku merapuh oleh tangisanmu
Kita tidak pernah berkaca pada kenyataan
Bahwa menangis adalah pengkhianatan
Aku pun tahu kita dipermainkan nasib
Hingga satu kata lebih berarti dari pada satu nyawa
Kita berpisah di sini
Aku tidak sudi menghamba pada dalil-dalil bohong
“tiada lawan atau kawan yang abadi
yang abadi hanyalah kepentingan”
Bukankah kau pun tahu
Mimpi yang kau alami
Kadang nyata kadang tidak
140303
1001 MALAM KAMI MENANGIS
Emak,
Air mata yang kau alirkan
Lewat sujud di malam itu
Telah menuntun langkahku sehasta demi sehasta
Dan pedang yang aku hunus masih tergenggam
Siap mengalirkan darah
Emak,
Di bawah telapak kakimu
Aku bersujud
Di sana kutemukan jalan menuju kemenangan
Lolongan tangis dan air mata
Akan selalu kucatat dan kupahat
Dalam kalbu ini
Aku takan surut
Meski ratusan ribu zionis menyerbu
Meski 1001 malam aku harus menangis
Aku akan terus bertahan
Mempertahankan kisah kita
Di negeri 1001 malam yang dirusak sang adidaya
2003
AIR MATA DI MUSIM KERING
Harus seperti apa aku memaknainya
Ketika candi tak berbatu
Jam tak berdetik
Dan hujan tak berair
Sedangkan sepi menusuki jantungku
Waktu kau lepaskan diri
Dari gelombang penindasan
Harus seperti apa aku memaknainya
Ketika bulan tak bercahaya
Tahun tak berhari
Kita pun terhenti
Mengering dalam penyesalan
Melemparkanku dalam tangisan
Saat kelaparan jadi hantu menakutkan
Kita menyaksikan semua itu
Namun aku tak mengerti
Ketika semuanya terjadi begitu saja
Air mataku jatuh satu persatu
Seperti gerimis kemarin sore
Saat candi-candi itu mereka bangun
Saat detik-detik itu mereka lepaskan
Saat tangis itu menjadi hujan tak berair
Harus seperti apa aku memaknainya
Harus seperti apa aku memaknainya
2003